Sore yang cerah dan langit dihiasi dengan gulungan awan putih terlihat indah, namun hatiku gelisah dan berdebar mendapat kabar bahwa dirimu masuk Rumah sakit. Akupun pergi meninggalkan Jakarta walau baru saja tiba dari tempatmu.. Dalam perjalanan yang panjang terus terbayang wajahmu. perasaan dan hatiku terus berdebar semakin kencang, kuberdoa pada Tuhan tiada henti agar tidak terjadi apa – apa denganmu. Dan kuyakinkan diriku bahwa kau kuat sepertiku. Alat komunikasi yang kubawa untuk memantau perkembanganmu di Rumah Sakit tiba-tiba tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan membuat perasaanku semakin berkecamuk tak menentu. Tiba di Temanggung kakiku serasa tidak menjejak dan melayang melihat Buah hatiku terbujur kaku dibalut kafan. Kuciumi kening anakku yang diam tak bergerak, Kuajak bicara namun dia hanya terdiam. Kutatap wajahnya terlihat senyum tersungging dibibirnya. Tuhan…. mengapa Kau ambil nyawa anakku… Apa salahku padaMu sehingga kau berikan cobaan ini…. Aku sudah tidak bisa menangis dan air mata terasa kering. kuberdiri disisi jasadmu sambil membelai kepala dan mencium keningmu, ntah.. sudah berapa lama hingga Mama dan Adikku tiba. Amarahku tiba-tiba memuncak , meluap penuh kebencian kepada orang di sekitarku yang kuanggap tidak bisa menjaga Buah hatiku, ku pun beranjak dari pembaringan buah hatiku dan kutatap satu persatu orang disekelilingku yang terlihat takut menatapku. kakiku pun mulai melangkah namun serasa tertahan dan terlihat Mama memegangi tanganku sambil berkata agar aku sabar dan tawakal. hanya kata – kata Mama yang bisa meredakan api amarah diriku. Masih terbayang dipelupuk mata kau tersenyum padaku dan melirik, menagis manja, mengangkat tangan bak petinju. Malam menjelang kebrangkatanku ke Jakarta, dirimu rewel… menangis dan tak mau diam, Kugendong dirimu dengan secarik kain hingga dirimu berhenti menangis dam tertidur di gendonganku dari malam hingga subuh, seakan dirimu tidak menghendaki aku pulang..Ternyata itulah kali terakhir Papi menggendongmu sayang…Anakku…. maafkan Papi yang tidak bisa mendampingi ketika ajal menjemputmu.. Seandainya ada mungkin Papi bisa melindungimu dengan doa yang tulus…. Selamat jalan anakku, Papi akan selalu merindukanmu……………
Temanggung, 3 Oktober 2004
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

